Hari
ini untuk kesekian kalinya aku marah, murka, geram dan tak tahan untuk
melampiaskan emosi yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun ini... Anak
ini sungguh luar biasa mempermainkan hidupku. Seperti roller coaster,
hidupku dan emosiku kini naik turun tanpa bisa terkendali lagi.... Tesis
yang kubuat dengan susah payah, mengorbankan waktu bertahun-tahun,
menghabiskan banyak tenaga dan keringat (juga uang...) kini teronggok
seperti sampah... Penuh coretan gambar boneka, rumah, dan entah apa lagi
aku sudah tak memperhatikan lagi.
"Sini kamu... Apa yang sudah
kamu lakukan? Kamu rusak buku mama!" Dengan amarah yang meluap-luap
seperti gunung berapi yang siap memuntahkan laharnya, aku menghampiri
Rara, anak perempuanku itu.
"Aku gambar mama dan aku lagi maen
di taman.." Dia sibuk saja berceloteh tanpa merasa bersalah, tanpa takut
juga. Anakku ini hiperaktif, aku sampai malu kalau mengajak dia ke
tempat umum. Beberapa kali kubawa ke restoran, baik yang cepat saji
maupun yang bukan, dia selalu berlarian tak bisa diam. Sering juga
menghampiri meja orang lain dan mengajak orang yang bersangkutan
ngobrol. Sungguh tidak sopan! Belum lagi dia susah makan dan suka
menjerit-jerit. Huh! Di mall atau supermarket apalagi. benar-benar
seorang trouble-maker cilik... Kalau cuma merengek minta dibelikan
sesuatu masih bisa kuatasi. Tapi yang dia lakukan adalah MERUSAK! Aku
pernah mengganti keramik yang dia pecahkan di sebuah toko buku. Aku
sering ditegur pramuniaga karena dia membongkar barang-barang yang
dijual. Dan membuang ke lantai, misalnya seperti mengeluarkan pasta gigi
dari bungkusnya, lalu diacak-acak... arggghhh... Energiku habis
mengurus anak ini. Meninggalkannya hanya berdua dengan pembantu rumah
tangga, aku tak berani. mengingat banyak kasus penganiayaan terhadap
anak-anak yang dilakukan oleh pembantu. Pengurus rumah tanggaku yang
sekarang orangnya cukup sabar, tapi aku masih was-was juga meninggalkan
anakku lama-lama dengan si mbak. Soalnya anakku ini berbeda dari
anak-anak lainnya. Betapa irinya aku pada adikku Nana yang memiliki anak
kalem, lembut dan gampang diatur. Atau pada sahabatku Santy yang
memiliki anak laki-laki yang berprestasi di sekolah, selera makannya
bagus dan prilakunya yang sopan. Kalau dikatakan faktor genetis, rasanya
mustahil Santy yang super duper nakal sewaktu kecil bisa memiliki anak
sebaik dan semanis Ryan. Sedangkan aku yang biasa-biasa saja (malah
tergolong introvert) kok bisa punya anak yang sifatnya seperti ini. Aku
sering mengeluh dan berkonsultasi dengan teman-temanku. Mereka
menyarankan untuk bertanya pada ahlinya. Dan hasilnya anakku tergolong
asperger autism, sejenis autis yang tidak terdeteksi sejak dini. Baru
terlihat sekita umur 6 tahunan, dan ciri-cirinya hampir mirip dengan
anak hiperaktif...
Tak terhitung sudah berapa kali aku marah
kepada anakku yang baru berumur lima tahun itu. Tak terhitung berapa
banyak air mata yang tercurah karena dia tak sengaja sering melukai
dirinya sendiri... Memegang setrika yang masih dicolok Mbak Ningsih
waktu dia berumur 1,5 tahun. Keserempet sepeda motor karena dia lari
dari rumah waktu pintu terbuka. Waktu itu aku sedang mengunci pintu
hendak keluar rumah, tiba-tiba Rara langsung melesat ke jalan. Padahal
aku sudah memegang tangannya, tapi tetap saja dia bisa melarikan diri.
Ternyata inspirasi rumah tanpa pagar (cluster) yang indah kurang tepat
bagiku karena nyaris mencelakakan anakku Rara. Belum lagi dia bertengkar
dengan anak tetangga lalu kepalanya berdarah karena dilempari batu.
Aduuuhhh!!! Jangan harap aku mau membawanya ke rumah teman atau
saudara... Ada-ada saja tingkahnya yang membuat aku tidak enak hati.
Mulai dari menarik kaki bayi temanku yang baru melahirkan, memecahkan
koleksi keramik mini kesayangan sepupuku, yang susah-susah
dikumpulkannya sejak remaja, bahkan sampai hunting keluar negeri...
"Kamu nakal banget sih." Bertubi-tubi kulayangkan pukulan ke
pantatnya yang tepos. Hilang sudah rasa kasihan karena dia kurus akibat
susah makan. Hilang sudah kesabaran yang sudah bertumpuk-tumpuk
sepanjang minggu yang berat ini... Mengerjakan thesis sampai titik darah
penghabisan. Thesis yang sudah lama terbengkalai karena aku menikah
kemudian hamil, melahirkan dan mengurus Rara...
"Ampun mama..
sakit...." Rintihan Rara tak membuatku berhenti. Terisak-isak dan
terpuruk di lantai, Rara masih sempat berkata, "Mama jahat sama aku!!!"
Kata-kata yang terlontar dari bibirnya yang mungil itu membuatku semakin
naik pitam. Kujewer kupingnya dan kuseret Rara ke kamar mandi. Setan
sungguh sedang menguasaiku sehingga aku tak sadar apa yang aku
lakukan... Aku mengguyur Rara hingga basah kuyup...
"Bu, eling
bu... Kasian non Rara. Saya yang salah, Bu. Tadi ndak lihat non Rara
ngambil buku ibu dari atas lemari. Dari kemaren kan non kepengen banget
ngambil buku itu..." Mbak Ningsih tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu
kamar mandi, berlinang air mata.
Masih menyimpan kekesalan, aku
keluar dari kamar mandi. Kuambil flashdisk dari dalam laci meja
tulisku. Harus buru-buru ke warnet buat ngeprint ulang thesisku yang
telah dirusak Rara. Komputer di rumah rusak dan belum sempat diperbaiki.
Laptop aku tak punya.
Pulang ke rumah, Rara sudah tidur.
Tumben, gumamku dalam hati. Biasanya selalu susah disuruh tidur. Minta
dibacakan dongeng dulu, tapi tetap tidak mau tidur. Menjerit-jerit dan
melompat-lompat di atas ranjang. Hmmmph!!! Semalam saja dia ikut papanya
begadang nonton bola di televisi.
Kuraba keningnya panas. Rara
demam rupanya. ya Tuhan, jangan-jangan Rara panas karena kusiram tadi.
Dalam tidurnya, Rara mengigau, "Jangan mama. Aku jangan dipukul lagi!"
Oh sungguh memelas. Kenapa tadi aku bisa setega itu ya? Kini melihat
wajahnya yang innocent seperti bayi (wajah Rara memang tidak banyak
berubah semenjak dia bayi), hatiku miris. tanpa sadar air mataku
bergulir ke pipi, dan jatuh ke wajah Rara.
"Mama...." Rara terbangun dari mimpi buruknya.
"Ya sayang..." Aku memeluk tubuh mungilnya.
"Rara minta maaf ya, Ma.. Rara janji nggak nakal lagi." Kalimat ini selalu diulangnya setiap kali ia melakukan kesalahan.
"Janji ya, sayang...." aku mencium kepalanya.
"Janji, ma. Mama masih marah sama Rara?" bola mata yang bulat itu menatapku penuh harap.
"Mama nggak marah lagi, karena mama sayang sama Rara," air mataku
jatuh lagi seperti dua tetes gerimis membasahi wajah mungil Rara.
"Jangan nangis lagi, mama... Terima kasih Tuhan, mama sudah nggak marah lagi sama Rara..."
Ya Tuhan, ampuni aku orang berdosa ini. Dan terima kasih Tuhan,
Engkau telah mengirim malaikat kecil ini untuk mewarnai hidupku. bila
dikilas balik, di balik kenakalannya Rara tetaplah seorang anak kecil
yang butuh perhatian dan kasih sayang. Mungkin selama ini aku terlalu
sibuk dengan urusan-urusanku sehingga sering mengabaikan dia. Rara
bidadariku, mutiara hatiku.... Doamu yang tulus sungguh menyentuh hati
mama, nak. Mama berjanji akan menjaga dan membimbingmu lebih baik lagi.
lebih sabar, lebih care karena Rara matahari yang menyinari hidup mama.
Tanpa Rara hidup mama hampa. Tanpa Rara mama kurang motivasi untuk
menjadi orang yang lebih bersemangat meraih cita-cita. Terima kasih
Tuhan telah menyadarkanku. Rumput tetangga mungkin lebih hijau, tapi aku
punya tanaman sendiri yang menunggu jamahan tanganku
untukbertumbuh..... Bukankah setiap pribadi diciptakan unik, ada
kelebihan dan ada kekurangan. Lalu mengapa aku harus berkeluh kesah
menghadapi perangai anakku sendiri? Ayo semangat bagi ibu-ibu yang
frustasi dengan tingkah anaknya. Kasih ibu sepanjang jalan.... Mari kita
tuntun anak-anak kita mencapai harapan dan impian-impian mereka....
Sumber : Cerpen.net
[+/-] Selengkapnya...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar