Jumat, 16 Maret 2012

KUMPULAN DONGENG


      KASUT BIDADARI
Kasut Bidadari adalah nama sejenis Anggrek yang tumbuh di hutan. Kasut berarti sepatu. Anggrek Kasut Bidadari yang tumbuh di tanah ini sangat indah. Bunganya seperti disulam dengan benang emas. Tepiannya berwarna perak. Karena indahnya, ada dongeng tentang anggrek Kasur Bidadari ini. Beginilah ceritanya…

Dahulu kala, di kerajaan kahyangan, ada tujuh puteri yang sangat jelita. Nama-nama mereka diambil dari nama bunga. Mawar, Dahlia, Cempaka, Tanjung, Kenanga, Cendana dan si bungsu Melati. Mereka masing-masing mempunyai kesukaan yang berbeda. Yang paling menonjol dari antara mereka adalah si bungsu Melati.

Melati sangat suka bemain-main di hutan Rimba Hijau. Hutan itu sering dikunjungi manusia. Ayah mereka berulang kali melarang Melati bermain di hutan itu. Sang ayah takut jika puterinya itu bertemu dengan manusia.

Di rimba itu terdapat sungai dengan air terjun yang indah. Di saat Cuaca cerah, gemercik airnya membias memantulkan sinar matahari. Sehingga terbentuklah warna-warna indah seperti pelangi.

Suatu hari Melati mengajak semua kakaknya ke Rimba Hijau. Mereka turun ke bumi dengan meneliti pelangi. Mereka mengenakan pakaian dan sepatu yang indah. Setibanya di bumi, mereka asyik bermain di air terjun.

Sedang asyiknya mereka bermain, lewatlah seorang pemburu. Ia sangat terkejut melihat ketujuh bidadari itu.
"Hei, siapa kalian? Aku belum pernah melihat kalian!" seru pemburu itu.
Ketujuh puteri itu sangat terkejut. Mereka langsung terbang melayang ke angkasa. Saking terburu-buru, sebelah sepatu Melati jatuh ke bumi. Melati bermaksud mengambilnya. Namun kakak-kakaknya melarangnya. Ketujuh bidadari itu lalu kembali meniti pelangi. Perlahan-lahan pelangi itu pun mulai menghilang.

Pemburu tadi terpana menyaksikan kepergian ketujuh bidadari itu. Ia lalu memungut sebelah sepatu Melati yang tadi terjatuh. Namun, sepatu itu tiba-tiba terjatuh lagi dari tangannya. Pada saat itulah terjadi kejadian aneh. Sepatu tadi perlahan-lahan berubah menjadi bunga yang indah. Setiap helai kelopaknya seperti tersulam dari benang emas dan perak.
"Aneh… kasut tadi mengapa bisa menjadi bunga? Tentu ketujuh gadis tadi adalah bidadari…" gumam pemburu itu. "Karena berasal dari kasut, kunamakan saja bunga ini Kasut Bidadari," gumamnya lagi.

Demikianlah… Akhirnya sampai kini bunga itu dinamakan Kasut Bidadari.




        MENGAPA BEO SELALU MENIRUKAN SUARA
ahulu kala, hewan-hewan di hutan bisa berbicara seperti manusia. Mereka bercakap, bekerja sambil bercakap, juga hidup rukun dan damai. Pada suatu hari Ibu Peri Penjaga Hutan mengumpulkan penghuni rimba. Ia berkata,
“Anak-anakku, Sang Pencipta telah menciptakan makhluk baru. Namanya manusia. Sang Pencipta memutuskan bahwamanusialah yang akan berbicara dengan bahasa kita. Dan kita diperintahkan untuk mencari bahasa dan suara baru untuk kita pakai mulai saat ini.”

Pada mulanya para penghuni rimba terkejut. Namun mereka sadar bahwa tidak mungkin menolak kehendak Sang Pencipta.
“Ibu Peri Penjaga Hutan, kami tunduk kepada kehendak Sang Pencipta. Tapi sekarang kami belum bisa mencari bahasa baru untuk kami pakai. Berilah kami waktu,” ujar Singa mewakili teman-te “Aku mengerti. Kalian diberi waktu satu minggu. Kalian akan berkumpul lagi disini dan memberitahu padaku bahasa apa yang kalian pilih. Setelah itu, pakailah bahasa serta suara itu, dan lupakan bahasa manusia.”
Maka pulanglah penduduk hutan ke tempat masing-masing. Mereka mulai berpikir keras untuk mencari suara yang gagah dan cocok untuk mereka masing-masing.

Begitulah, hari demi hari penduduk hutan sibuk bersuara. Mencari-cari suara yang akan mereka pakai selanjutnya. Singa yang telah dinobatkan sebagai raja hutan karena keberaniannya, lebih dahulu memilih suara mengaum.
“Aouuuuum,” katanya dengan gagah memamerkan suaranya. Penduduk hutan yang lain senang mendengarnya. Mereka merasa suara itu pas benar dengan bentuk tubuh singa yang gagah.

Tapi tidak semua hewan senang mendengarnya. Burung Beo yang usil malah menertawakan suara itu.
“Hahaha, mirip orang sakit gigi,” cetus Beo sambil tertawa terbahak-bahak.
Singa sangat malu mendengarnya.
Begitulah, hari berganti hari, semuanya mencoba berbagai suara kecuali Beo. Ia sibuk mengejek suara-suara yang berhasil ditemukan.
“Hahaha, seperti suara pintu yang tidak diminyaki,” ejek Beo kepada Jangkrik yang menemukan suara berderik.
“Hahaha, kudengar nenek-nenek tertawa,” ejeknya kepada Kuda.
“Ban siapa yang bocor? Hahaha,” ia menertawakan suara desis Ular.
Begitulah pekerjaan Beo setiap hari. Ia sibuk mengintip dan menertawakan penduduk hutan lainnya yang mencoba suara baru. Teman-temannya tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka malu dan langsung menghindar dari Beo. Tapi Beo selalu berhasil menemukan dan menirukan suara mereka.
“Mbeeeek,” tirunya ketika melihat Kambing.
“Ngok-ngooook,” tirunya ketika melihat Babi.

Tak terasa sudah satu minggu. Penduduk hutan harus berkumpul kembali untuk mengumumkan suara yang mereka pilih.
Ibu Peri Penjaga Hutan memanggil mereka satu per satu. Beo saja yang masih saja tertawa. Ia pikir teman-temannya bodoh, karena suara yang mereka temukan lucu-lucu.

Tibalah giliran Beo untuk mengumumkan suara barunya. Ia maju ke depan.
“Mbeeeek,” jeritnya.
“Hei itu suaraku,” kata Kambing.
Yang lain tertawa.
Beo tertegun. Ia baru sadar, selama ini ia terlalu sibuk mengejek teman-temannya sehingga lupa untuk mencari suaranya sendiri.
“Muuu,…guk-guk,…meong,” Beo panik. Ia menirukan saja suara yang pernah ia dengar. Tentu saja Sapi, Anjing, dan Kucing tertawa terbahak-bahak.
Beo sangat malu. Akhirnya ia menangis tersedu-sedu. Ia minta maaf kepada teman-temannya.

Dengan tersenyum Ibu Peri Penjaga Hutan berkata, “Sudahlah, kamu akan tetap kuhadiahkan sebuah suara. Tapi sebagai pelajaran, kau akan tetap menirukan suara orang, sehingga kau akan ditertawakan selamanya.”
Begirulah riwayatnya, mengapa burung beo selalu menirukan suara-suara.mannya.
DI KUTIP DARI Oleh: Maria Erliza

KISAH SEBUAH KELUARGA


Kumis tebal, kain sarung. Tegar dan penuh semangat. Grapyak dan semedulur. Jadi pegawai karena pinter main bola setingkat kecamatan. Asap rokok selalu membumbung di dekatnya. Kalau sedang bekerja bisa lupa waktu. Membersihkan rumput di sekeliling rumah, membuat atap kamar mandi, membuat kandang ayam, dan lain-lain. Tidak pernah bermalas-malasan. Paling-paling kalau masuk angin dan batuk-batuk. Minta dibuatkan wedang asem merah atau wedang jahe. Meringkuk di amben sambil kerodong sarung. Itulah bapakku.

 “Anakku diterima kuliah! Anakku jadi mahasiswa!” itu yang diteriakkan bapak ketika aku diterima di sebuah perguruan tinggi. Sambil menjinjing koran pengumuman, beliau mengabarkan ke saudara-saudaranya. Beliau sangat bungah karena aku yang bungsu menjadi anak satu-satunya yang kuliah. “Kamu harus jadi sarjana, Di!” kata beliau mantap. Tapi aku tahu dalam hatinya bingung membiayai kuliahku kelak. Gaji pegawai sangat minim waktu itu.

Tahun 1998 musimnya demo mahasiswa. Bapak mampu membaca gelagatku yang juga termasuk aktivis kecil-kecilan. Beliau mencariku di kampus. Padahal aku sedang ikut demo di Jakarta. Maafkan aku bapak, tidak pamit waktu itu.* Tahun 2002, aku wisuda. Bapak dan ibu mendampingiku. Bapak memakai hem lengan panjang berdasi. Ibu memakai kebaya.

” Adi kalau berangkat kerja suruh jangan pakai jaket, biar baju gurunya kelihatan,” kata bapak pada ibu. Beliau ingin melihatku memakai seragam guru tanpa tertutup jaket. Beliau bangga melihat anaknya sudah menjadi guru.

Bapak sempat gusar melihat aku belum mempunyai calon istri. Kalau ada teman putri mbakyuku yang main ke rumah, beliau selalu mempromosikan aku. Terima kasih bapak, aku tahu bapak ingin melihatku mempunyai pendamping hidup.
***
Di sisa hidupku. Ibu cuma ingin melihat anak-anakku terhindar dari hidup sengsara. Ibu tidak berharap apa-apa dari kalian. Cukup bagiku bisa makan dengan tempe goreng dan sambal terasi. Teh pahit cukup membuatku bungah. Ibu juga bungah kalau sedang kumpul dengan tiga cucuku: Ria, Dita, dan Raihan. Ria sekarang jauh dengan ibunya di Jambi. Dita dekat denganku,karena rumah ibunya di belakang rumahku. Kalau Raihan di Purbalingga, bareng Adi, bapaknya. Ibu sudah terbiasa merasa sepi ditinggal anak. Ibu tidak akan membeda-bedakan anak-anak dan cucu-cucu ibu.

 Di, kemarin hari Minggu ibu masak gasik. Ibu mengira kamu akan datang,tapi ternyata tidak datang. Di, ibu sekarang tiap malam nonton tivi sendiri. Mbakyumu tidur gasik terus. Di, ibu sebenarnya ingin gendu-gendu rasa sama kamu. Biar uneg-uneg ibu hilang semua. Nanti ibu buatkan segelas kopi kental untukmu. Raihan sudah bisa jalan ya? Ibu kangen Raihan. Pasti sudah tambah gemuk dan lucu ya?

Itu yang mungkin ada dalam fikiran ibuku saat ini. Bagiku ibu adalah segalanya. Tempat berbagi cerita. Beliau begitu sabar dan tegar menghadapi kerasnya hidup. Beliau mampu melewati likuan hidup dengan baik. Manis, asam, pahit kehidupan sudah dirasakannya. Tunggu aku dan Raihan di rumah ya bu? Siapkan saja kopi clebek klangenanku dan tempe goreng kesukaanku buat dijambal. Nanti kita ngobrol apa saja yang ibu suka. Aku akan menjadi pendengar yang baik.
***
Aku bergegas ingin segera menuju ke suatu tempat. Aku berpakaian seadanya: kaos oblong, celana panjang hitam, dan memakai sandal jepit. Hari sudah sore. Setengah jam lagi adzan Maghrib. Ku percepat langkahku, berharap segera sampai di tempat yang kutuju: menemui bapakku.

 Ada banyak hal yang menyebabkan aku rindu ingin menemui bapak. Dari aku kecil sampai dewasa, beliau sangat perhatian padaku. Wajahnya kelihatan galak, tapi sebenarnya baik hati. Belum pernah sekalipun aku dipukulnya. Beliau selalu memberiku semangat pantang mundur dalam hidup. ” Aku ingin melihatmu jadi orang sukses, menikah, dan punya anak. Semoga aku diberi umur panjang agar bisa menimang anakmu,” kata beliau suatu ketika.

Beliau tidak pernah mengeluh dalam hidup. Meski ada keterbatasan ekonomi keluarga, tapi senyumnya selalu menyiratkan harapan dan semangat yang tinggi. Beliau mampu menyekolahkan anak-anaknya, meski hanya setingkat SMA, kecuali aku yang sampai sarjana.
 Kadang ada sedikit konflik diantara kami. Kami anggap itu sebagai bumbu kehidupan. Aku dan bapak kadang berbeda cara pandang saja, karena jarak usiaku dan bapak cukup jauh.

Ajaran bapak tentang semangat dan kerja keras telah membawaku dalam keadaan sekarang: menikah,punya anak, dan bekerja. Alhamdulilah keinginan beliau telah kuwujudkan.

 Setelah berjalan kaki sekitar 15 menit, akhirnya aku sampai di sebuah tempat yang aku tuju. Kuucapkan salam. Aku menaiki gerbang masuk berupa jalan bertangga. Aku melewati gundukan-gundukan tanah yang di ujung-ujungnya dibatasi batu, berjajar dengan rapi. Aku mendekati tempat dimana kini bapak berada. Kutaburkan bunga-bunga. Kupanjatkan doa-doa [] Purbalingga, 2 Mei 2011. Mengenang almarhum Bapak Tercinta.
   DI KUTIP DARI by Agus Pribadi

MIMPIKU LEBIH TINGGI DARI LANGIT


Saat aku berusia 2 tahun, aku sempat berpikir bahwa seorang ibu adalah orang yang paling baik sedunia, dan setiap anak memiliki ibu. Apakah wanita yang tinggal serumah denganku ini adalah ibuku?
Aku pun tumbuh dewasa. Kekuranganku semakin terlihat karena secara fisik aku seperti anak laki – laki yang habis pangkas rambut. Ya, inilah aku. Gadis kecil tanpa nama, dan tanpa rambut di kepala. Aku tak pernah bebicara dengan ibuku. Yang aku tahu ibuku setiap malam menangis di kamarnya dengan menyebutku seperti anjing. Dan sehari – hari dia serasa hidup sendirian. Seakan – akan tak ada aku disini.
Suatu hari, seorang pria tampan dan rapi datang ke rumah. Dia melamar ibuku. Dia adalah orang pertama yang mengajakku bicara. Setidakknya selama hidup 4 tahun ini aku pernah mencoba bersuara namun ibu melarangku.
“Hai adik kecil... kenapa diam saja?” tanyanya sambil tersenyum dan mencubit pipiku. Terlihat dari garis wajahnya, dia adalah orang yang baik. Sama sekali tak mempedulikan bagian kepalaku.
Dengan kasar tiba – tiba ibu menyeretku masuk kamar. Aku mendengar suara dari luar bertanya sesuatu yang aku pikir tentang aku. Aku tak mendengar dengan jelas.
Beberapa hari berlalu dan ibuku dinyatakan hamil. Setahun kemudian aku resmi dipanggil kakak. Namun itu hanya istilah. Kenyataannya, bayi itulah yang menjadi “anak pertama”. Dan baru kali ini aku melihat ibu tersenyum. Bukan padaku. Tapi pada bayi itu.

Inilah pertama kali aku diajak keluar rumah oleh ibuku. Hanya berdua. Kami berhenti di suatu tempat yang agak ramai. Perkampungan kumuh yang ramai teriakkan anak kecil seusiaku. Kami memasuki sebuah rumah mewah. Lalu ibuku menyuruh untuk menunggu karena dia akan ke belakang sebentar. “Sebentar.” Katanya. Dan aku menurut. Saat itu aku belum tahu arti “sebentar”. Selama apapun, aku akan tetap menunggu. Karena dia ibuku.
Aku merasa hari semakin gelap. Namun aku tak juga menjumpai ibu. Mataku perih. Inikah rasanya ditinggal? Kemudian air mataku jatuh. Aku menangis.
Ada seorang nenek – nenek yang melihatku. Dia berjalan mendekat.
“Ibumu dimana?”
Aku tetap menangis.
“Ayok masuk dulu sini di rumah nenek. Nanti kita cari ibumu.”
1 hari, 2 hari, 3 minggu, ibu tak juga kembali. Aku tak tahu nama ibuku. Aku hanya mengingat wajahnya. Aku belum bisa berbicara. Dan kini itu bukanlah modal yang cukup untuk menemukan ibu.
Secara tidak resmi, aku menjadi cucu dari nenek baik hati itu. Aku diberi nama Nadia. Dia mempunyai anak. Aku memanggilnya tante Shila. Dia tak begitu menyukaiku. Namun aku tak kesepian karena ada nenek yang menyayangiku.
Aku disekolahkan mulai TK hingga sekarang, SMA. Ya. memakai beasiswa. Walaupun nenek selalu mengatakan bahwa aku tak perlu repot – repot mencari uang untuk sekolah karena nenek bersedia mananggungnya. Meskipun sejak kecil ibuku tak pernah mengajarkanku tentang etika, sejak tinggal bersama nenek aku tumbuh sebagai gadis yang tahu aturan. Bisa dibilang nenek adalah orang serba berkecukupan karena gaji pensiunan almarhum suaminya cukup banyak. Apalagi setelah Tante Shila menikah dan ia tinggal bersama suaminya, yang tinggal di rumah hanyalah aku dan nenek.
Semua kebutuhanku terpenuhi, mulai dari makan sehari – hari hingga peralatan elektronik. Pernah suatu hari nenek mengajakku ke dokter untuk memeriksa kepalaku mengapa tidak ada rambut yang tumbuh, namun aku menolaknya. Biarlah aku tetap begini. Karena dengan fisik seperti inilah aku bisa menemukan ibu.
Kini aku memakai jilbab, alasan sepenuhnya bukan untuk mentupi kekurangan fisikku, melainkan untuk menutup aurat dan bertaqwa kepada Tuhan.
Pernah suatu hari aku berdebat hebat dengan tante Shila. Saat itu aku mengajak jalan – jalan nenek di pasar. Kami melihat – lihat barang – barang antik. Macam – macam makanan dan minuman dijual disana. Suasana begitu ramai. Apalagi saat itu hari libur. Aku dan nenek bersenang – senang. Kami bertemu dengan penjual baju – baju unik. Benar – benar sangat unik. Jika dilihat sekilas, yang nampak tidak seperti baju, melainkan gantungan – gantungan kain. Mungkin jika aku adalah turis mancanegara, aku akan mengira itu adalah souvenir khas daerah ini.
Aku dan nenek berhenti di sebuah warung kecil. Warung itu menjual makanan sederhana seperti gule, rawon, sayur lodeh, dan lain – lain. Matahari sudah mecapai titik paling panas di daerah khatulistiwa. Aku manawarkan makan siang pada nenek. Namun nenek berkata bahwa lebih baik makan di rumah saja. Aku tetap memaksa. Aku ingin menghabiskan siang ini bersama orang yang telah membesarkanku. Dan akhirnya nenek tak punya alasan lagi untuk menolak.
Aku memesan 2 porsi gule kambing dan 2 gelas es teh. Nenek menurut saja. Terlihat jelas pada raut wajahnya seakan ada sesuatu yang dia sembunyikan.
“Nenek kenapa?”
“Tidak.” Kata nenek sambil tersenyum.
Kami memakan gule kambing itu dengan lahap. Ya, aku lapar sekali. Begitu pula dengan nenek. Pasti lebih lelah dibanding aku yang jauh lebih muda darinya.
Selesai makan, aku dan nenek kembali ke rumah. Nenek mengaku agak pusing, kemudian dia masuk kamar dan tidur.
Besok adalah hari Senin, hari dimana semua mata pelajaran pasti ada tugasnya. Dan kabar baiknya, aku belum menyelesaikan semua.
Terdengar dering handphone ku.

Tgs mtk dikumpulin kapan?
Sender: 0856xxxxxxxx

Besok lah...
Sent to: 0856xxxxxxxx

Uda ngerjain? Paket halaman brp seh? Gue lupa nyatet..
Sender: 0856xxxxxxxx

Ni baru mo ngerjaen. Hal.34 no.1-25
Sent to: 0856xxxxxxxx

Ngerjaen bareng yuk? Gue ke rumah loe skrg ya?
Sender: 0856xxxxxxxx

Ok.. gue tggu...
Sent to: 0856xxxxxxxx

Beberapa menit kemudian Vella, temanku yang barusan sms aku, datang. Aku mengajaknya masuk ke kamar. Vella adalah DJ terkenal di sekolah. Dia adalah sahabatku. Dia menegtahui kisahku sejak lahir hingga sekarang. Dan beruntungnya, dia tidak malu berteman denganku.
“Loe ada Sound gede kan? Nge-play lagu ya?” kata Vella.
“Katanya mau ngerjaen tugas?” seruku.
“Ya udah kita kerjaen dulu. Tpi boleh kan ntar gue nyalain? Kuping gue gatel kalo nggak denger musik. Hahah...” kata Vella sambil tertawa.
Sekitar 1 jam kemudian kami selesai mengerjakan tugas membingungkan itu. Bab trigonometri yang membuat rambut – rambut ilmuwan menjadi rontok. Haha.. itulah istilahku. Entah kenyataan atau tidak aku tak peduli.
Vella langsung menyalakan laptop dan memutar lagu favoritnya. Dejavu. Volume dimaksimalkan sehingga aku sendiri tidak bisa mendengar suaraku. Untungnya kamarku sudah difasilitasi pengedap suara. Terdengar sayup – sayup seperti suara nenek yang memanggilku. Namun aku menghapus pikiran tersebut karena aku tahu nenek sedang tidur dan tidurnya nenek pasti tidak sebentar.
Beberapa menit kemudian ada suara seperti sesuatu yang terjatuh dan ada pula sesuatu yang pecah. Aku langsung menghentikan lagu Vella dan keluar kamar. Tak ada apa apa. Itulah yang aku lihat. Kemudian aku menuju kamar nenek. Kosong. Aku panik. Aku menuju tangga. Aku terkejut ketika mendapati nenek tergeletak diam di lantai bawah.
“Neneeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeek” teriakku.
---
Aku terdiam. Aku tetunduk. Aku hanya memikirkan bagaimana keadaan nenek. Tante Shila datang. Tanpa memandang ke arah ruang UGD, tante langsung menarikku dan membanting badanku ke tembok.
“Apa yang kau lakukan pada ibuku?” bentaknya. Pihak rumah sakit yang melihat adegan tersebut langsung menangkan tante. Aku dibawa menjauh dari tante. Mereka tahu pasti pikiranku dan tante sedang tidak jernih dan selimuti oleh emosi. Dan emosi tidak menyelesaikan permasalahan.
Beberapa menit kemudian dokter berkata bahwa tekanan darah nenek meninggi. Sejak lama memang nenek memiliki tekanan darah tinggi. Bodohnya, aku tidak tahu hal sepenting itu. Aku teringat pada gule kambing yang aku dan nenek makan tadi siang. Selain itu, ada retakan di tengkorak nenek. Dugaan sementara adalah karena nenek terjatuh dari tangga. Aku down. Aku lebih pantas meninggalkan nenek karena aku seperti orang yang tak tahu terima kasih.
Sesampainya di rumah...
“Kesabaranku ada batasanya. Sejak awal aku sudah menduga bahwa menerimamu di rumah ini bukanlah ide yang baik! Kau adalah anak cacat yang sengaja dibuang oleh ibumu karena keberadaanmu hanyalah membuat orang lain sial!!!!!!” seru tante Shila.
Aku yang baru datang dari rumah sakit, masuk rumah langsung disemprot hinaan itu.
“Maaf.” jawabku singkat. Lalu tiba – tiba tamparan panas mendarat di pipiku. Aku menerimanya karena hal itu masih termasuk kecil dibanding tindakanku pada nenek.
“Cuma maaf katamu? Apakah selain tak memiliki rambut kau juga tak memiliki kemampuan berbicara?” nada tante meninggi. Aku tak kuat menahan kata – kata itu. Namun aku mencoba diam.
“Masih tak ingin bicara? Apa yang sebenarnya ada di kepalamu itu Nad? Apa kau tidak sungkan merepotakan ibuku selama 12 tahun ini? Apakah kau tidak berinisiatif untuk pergi dari sini? Apa ini yang dijarkan ibumu sebelum kau dibuang kemari? Ibumu adalah wanita terbodoh karena ia masih membiarkanmu hidup!!!!!!”
“Cukuuuuuuuup!!!” aku tak mampu menahannya. Karena kini yang disalahkan bukan hanya aku, melainkan juga ibuku. “Hentikan tante! Kalau memang itu yang tante inginkan, aku akan melaksanakannya, tapi kumohon jangan pernah lagi tante mengatakan 1 hal apa pun tentang ibu saya! Tante tidak tahu apa – apa!”
“Lalu tunggu apa lagi? Kenapa tidak langsung pergi?”
“Nadia akan pergi stelah ada kepastian kabar tentang keadaan nenek. Setidaknya Nadia ingin melihat nenek membuka mata. Setelah itu, nadia akan pergi dan Nadia janji, tante dan nenek tidak akan melihat Nadia lagi.” Kataku pelan. Aku sendiri terkejut tentang apa barusan kukatakan. Jika memang aku akan pergi, mau kemanakah aku?
---
Beberapa hari kemudian nenek resmi dinyatakan sembuh dan boleh pulang, dokter memberi catatan makan apa saja yang tidak boleh dikonsumsi banyak oleh nenek. Yang lebih penting adalah, aku telah melihat nenek membuka mata. Jadi, sudah waktunya untuk aku meninggalkan tempat ini.
Tanpa nenek ketahui, aku telah meninggalkan rumah. Kini aku persis seperti gelandangan yang tidak memiliki tujuan. Aku hanya membawa beberapa stel baju dan handphone. Aku menganggap barang – barang ini adalah barang pinjaman yang suatu saat nanti harus kukembalikan.
---
Beberapa hari telah berlalu. Aku tinggal bersama Vella, sahabatku. Aku tetap bersekolah di sekolahku yang dulu. Pernah suatu ketika aku melihat nenek di sekolahku. Sepertinya nenek sedang mencariku. Sejak saat itu aku memutuskan untuk pindah sekolah. Aku bekerja sebagai pengantar koran di sebuah perumahan mewah setiap dini hari. Aku juga menjual pulsa elektrik. Mudah memang, karena tidak menyita waktu namun kadang aku jengkel karena banyak teman – temanku yang berhutang sampai berminggu – minggu. Malamnya, aku bekerja sebagai penjaga warnet. Semua ku lakukan untuk biaya sekolah dan tabungan. Tabunganku adalah untuk melunasi hutangku pada nenek dan modalku untuk menemukan ibu.
Setiap hari belajar dan terus belajar. Aku bukan siswa terpandai di sekolah. Tapi aku juga bukan siswa yang bodoh. Aku jarang sekali menghabiskan malam minggu dengan teman – teman seusiaku. Bisa dibilang aku adalah anak kuper saat itu. Karena otakku hanya terisi oleh pelajaran dan pekerjaan. Pernah suatu sore seorang lelaki tampan mengajakku berkenalan. Karena aku terlalu polos, aku mau saja diajaknya jalan – jalan. Untungnya aku berhasil lari karena saat itu dia mengajakku tidur bersama.
Dan sejak saat itu, aku benar – benar brprinsip bahwa tak ada lelaki yang baik. Namun aku salah ketika aku bertemu dengan saudara Vella, Renno. Dia baik padaku. Bahkan dia mengajariku matematika, kimia, dan fisika. Pelajaran yang membuatku pusing degan beribu – ribu bintang bernari – nari diatas kepalaku.
Suatu ketika Vella memberi tahuku bahwa nenek ingin sekali bertemu denganku. Aku tetap pada keteguhanku. Aku sudah berjanji pada tante untuk tidak akan menampakkan batang hidungku pada keluarga tersebut.
Hingga suatu hari, Vella memberiku sepucuk surat tanpa nama pengrim.

Sudah bertahun – tahun kita tak bertemu. Aku merindukanmu. Tulus dari palung hati, aku menyesal telah meninggalkanmu saat itu. Dan kini saat aku ingin kau kembali padaku, aku bahkan tidak tahu lagi dimana keberadaanmu. Ini semua salahku. Aku terlalu egois untuk disebut sebagai orang tua. Aku sangat berterima kasih apada seorang nenek yang katanya dia telah merawatmu sampai sekarang. Namun kesedihanku bertambah karena kini aku benar – benar tidak tahu apa – apa tentang dirimu. Padahal kau dalah darah dagingku. Wajahmu pasti lebih cantik dan dewasa dibanding saat kau berusia 4 tahun. Apakah kau disana masih mengingatku? Masih adakah perasaan sayangmu padaku? Dan apakah aku masih berhak dan ada kesempatan bertemu denganmu, anakku?

Aku berpikir, mungkinkah ini ibu? Dari mana Vella mendapatkan surat ini? Aku pun baru sempat membalasnya 1 bulan kemudian. Aku terlalu sibuk dengan sekolah, pekerjaan, dan pikiranku apakah benar si pengirim surat tersebut benar ibuku.

Apakah kau ibuku?

Hanya itu yang kutulis dalam 1 lembar kertas balasan. Aku tak mampu berkata apa – apa karena baru membaca saja aku sudah menangis. Beberapa hari kemudian aku mendapatkan surat balasan.

Alhamdulillah kau masih hidup... aku bahagia sekali. Nadia, nama yang cantik untukmu. Aku ibumu nak... ibu kandungmu. Aku lah wanita hina yang tega membiarkanmu hidup menderita selama ini. Ku mohon...ijinkanlah aku mengajakmu kembali ke rumah. Disini rumahmu nak... kau berhak atas ini. Jika memang kau tak bersedia, 1 hal yang kuminta terakhir darimu, aku ingin bertemu denganmu.

Air mataku mengalir. Tahukah ibu? Mimpiku selama ini adalah menemukanmu dan memelukmu. Itulah yang aku inginkan. Dulu, jangankan ibu mau memelukku, melihatku saja ibu seakan tidak sudi. Dan kini jalan terbuka lebar antara kita. Aku tak akan menyia – nyiakan kesempatan ini. Ibu, tunggu aku...

Kita bertemu di depan rumah nenek. Rabu, 2 Februari 2011 jam 4 sore.

Sepulang sekolah, aku menyempatkan membeli bunga. Ya, untuk ibu. Untuk seseorang yang ingin kutemui sore ini. Aku menyiapkan semua uang tabunganku untuk melunasi hutangku pada nenek. Aku melakukan semua dengan semaksiamal mungkin karena hari ini adalah hari yang ku tunggu – tunggu sejak 13 tahun yang lalu.
Semua sudah siap. Aku memakai sepatu terbaikku. Baju terbaikku. Dan jilbab terbaikku. Aku berjalan menelusuri jalan setapak. Kemudian aku naik bajaj. Suara bising perkotaan ditambah knalpot bajaj yang memekikkan telinga tak jadi masalah. Seakan semua bercampur menjadi suatu musik yang indah mengiri pertemuanku dengan ibuku, dan nenek.
Sesampainya didepan rumah nenek. Aku terdiam. Aku teringat memori tahun lalu ketika aku masih di sana. Aku tersenyum. Semua seperti dalam sinetron – sinetron dengan aku sebagai tokoh utamanya. Aku tak melihat ada wanita disini. Ach... nungkin ibu masuk ke dalam rumah nenek. Pikirku. Aku pun menyebrang jalan untuk menuju rumah indah tersebut. Kemudian datang suara berat seorang wanita setengah baya yang memanggilku.
“Nadia?” katanya.
Aku menoleh. Diakah ibuku? Aku merasa tubuhku kaku. Ya. Dia ibuku. Dia melambaikan kedua tangannya padaku. Aku ingin membalas dengan senyum namun terlambat karena telingaku mendengar suara klakson yang semakin keras. Kemudian semuanya gelap.
---
Apakah ini surga? Kudengar seseorang menerikkan namaku. Nadia. Suara itu seperti pernah kudengar. Tiba – tiba aku merasa tubuhku perih. Aku membuka mata. Dia. Dia ibuku. Dia memelukku.
“Aku ibu nak...” katanya dengan suara parau dan tangisan tersedu – sedu.
Aku tersenyum kemudian aku berusaha mengucapan kata – kata, “Aaaku.. sayang ibu. Laa ilaha illallah...” kemudian mataku memaksa tertutup. Aku pun tak dapat merasakan lagi apa yang ada di sekitarku. Ya Tuhan... terima kash telah membuat mimpiku menjadi nyata. Aku bahagia.
        DI KUTIP DARI Vina Afasa

Kamis, 15 Maret 2012

kumpulan cerita lucu


   GAPNET
Suatu hari Bu Evi, guru Bahasa Inggris di SMU Harapan Makmur, memberi tugas siswa kelas sepuluh IPA untuk mencari sebuah artikel di internet yang membahas tentang flora dan fauna. Tugas itu dikerjakan secara berkelompok dan setiap kelompok akan dipilih secara acak. Setelah dilakukan pengacakan terbentuklah beberapa kelompok dan setiap kelompoknya terdiri dari 3 orang.

Salah satu kelompok dari beberapa kelompok yang ada adalah kelompok III yang terdiri dari Novi, Ani dan Ria. Mereka bertiga sepakat berbagi tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas dari Bu Evi. Secara kebetulan Novi bertugas untuk mencari artikel di internet, Ani bertugas menterjemahkan artikel kedalam bahasa Indonesia dan Ria bertugas untuk mengetik, mencetak dan mengumpulkan artikel tersebut ke Bu Evi.

Sepulang sekolah, mereka bertiga berjalan bersama. “Nov..., jangan lupa yach..., kamu cari artikel di internet!”, tutur Ani kepada Novi.

“Tenang aja, semua pasti beres!”, jawab Novi dengan meyakinkan. Tetapi dalam hati dia sangat bingung. Jangankan internet, komputer saja Novi masih belum mahir mengoperasikannya.

Karena terpaksa, sore itu Novi memberanikan diri untuk pergi ke warnet untuk melaksanakan tugasnya. Sesampainya di warnet, dia langsung duduk menghadap sebuah komputer dan mengotak-atiknya.

Satu jam telah berlalu, keringat dingin telah membasahi Novi, karena selama itu dia belum lakukan apa-apa, hanya otak atik mouse dan keyboard. Dengan menahan rasa malu, Novi memberanikan diri untuk bertanya kepada Mbak yang sedang jaga warnet. “Permisi Mbak..., boleh tanya!. Gimana ya... cara membuka internet itu?”.

“Lho... selama satu jam itu kamu ngapain aja?”, Mbak itu balik bertanya kepada Novi.

“Aku cuman otak atik mouse ama keyboard aja, nggak ada yang lain!”, jawab Novi sembari menahan rasa malu yang semakin besar.

Mendengar jawaban tersebut, Mbak itu terkejut dan sambil menahan tawa dia berkata, “Ya sudahlah..., nggak apa-apa, nanti kuajarin bagaimana caranya!”.

Seketika wajah Novi nampak lega karena ada yang mau berbaik hati mengajari bagaimana cara berinternet.

Singkat cerita, Mbak penjaga warnet tersebut beralih profesi menjadi guru kursus kilat belajar internet.

Esoknya Novi bertemu Ani dan Ria di sekolah. Kemudian Novi menceritakan pengalamannya di warnet kemarin. Setelah mendengar cerita tersebut, spontan saja mereka berdua tertawa. Tiba-tiba saja Ani menyahut, “Bentar-bentar..., aku mau ngomong nih. Jujur aja yach..., waktu pembagian tugas kemarin, aku berharap enggak kebagian tugas mencari artikel di internet, soalnya aku juga gapnet alias gagap internet, ha... ha... ha..”.

Spontan saja Novi bertanya, “Hah..., An... kamu juga gapnet ta?, kalau kamu Ria?”.

    NAEK LIFT
Icha adalah salah satu karyawan hotel berbintang lima di Surabaya. Suatu hari dia mendapat telepon dari Fitri, teman masa kecilnya dan merekapun terlarut dalam obrolan hangat. Setelah beberapa lama mengobrol, mereka mempunyai ide untuk bertatap muka secara langsung guna melepas kerinduan diantara mereka. Karena Icha sangat sibuk dengan pekerjaanya dan tak bis meninggalkannya sedetikpun, mereka memutuskan untuk bertemu di tempat Icha bekerja yaitu di hotel Saturnus lantai 10 blok 01.

Singkat cerita, Fitri menuju hotel Saturnus. Sesampainya di lantai satu, Fitri kembali menelepon Icha.

Fitri : Hallo... Cha... sekarang aku sudah berada di lantai satu, tolong jemput aku yach!

Icha : Kamu langsung naik aja ke lantai sepuluh, liftnya disebelah resepsionis.

Fitri : Aku gak berani naik sendirian, aku kan orang asing di hotel ini, entar aku dikira orang jahat lagi!. Jemput aku dong, please...

Icha : Ya... okelah!. Tunggu bentar, jangan kemana-mana!.

Setelah beberapa saat menunggu, batang hidung Icha muncul juga dan Icha mengajak temannya itu untuk naik ke lantai sepuluh.

Icha : Aku heran sama kamu sekarang!.

Fitri : Emang kenapa dengan aku Cha?.

Icha : Dulu, waktu di sekolah, kamu kan cewek paling pemberani diantara yang lain, sampai-sampai kamu dijuluki cewek superman. Kok sekarang mau nemui aku aja minta dijemput segala!.

Fitri : (sambil berbisik dan sedikit menahan tawa), Jujur aja Cha..., sebenarnya aku itu gak tau cara menggunakan lift...!.

Icha : Hah....!!!???








      INTERISTI SEJATI
Karena tidak mempunyai tiket untuk menonton pertandingan secara langsung, seorang interisti, julukan bagi suporter fanatik Inter Milan mencoba memasuki stadion dengan cara memanjat tembok stadion Geusepe Meaza untuk melihat derbi klasik antara AC Milan vs Inter Milan. Setelah berhasil memasuki stadion, dia melihat satu tempat duduk belum terisi dan disebelahnya duduk seorang Kakek yang dengan tenang menunggu dimulainya derbi itu. Interisti yang belakangan diketahui bernama Francisco Tapanuli itu kemudian mendatangi si Kakek dan bertanya kepadanya, “Permisi Kek, apakah tempat duduk di sebelah anda ini memang kosong atau ada orang lain yang akan menempatinnya tetapi belum datang kesini?”.

Kakek yang memakai kaos bermotif garis biru hitam, (Seragam tim Inter Milan) lengkap dengan syal bertuliskan Internazionale Milano itu menjawab, “Tempat duduk ini memang kosong!. Kalau mau anda boleh menempatinya!”.

“Terima kasih Kek!”, jawab Fransisco sambil duduk di sebelah Kakek itu. “Ngomong-ngomong, kenapa anda menonton pertandingan ini sendirian?”, lanjut Francisco.

“Selama lebih dari 20 tahun, saya bersama istri saya tak pernah sekalipun melewatkan derbi antara Inter Milan vs AC Milan, dan biasanya dia duduk di tempat duduk yang sedang anda tempati sekarang”, jawab si Kakek.

“Terus, dimana istri anda sekarang Kek?”, tanya Francisco dengan penasaran.

Dengan memandang ke wajah Fancisco Kakek menjawab, “Dia sudah meninggal dunia!”.

Mendengar jawaban Kakek, Francisco berkata, “Oh... Maaf Kek. Saya turut berbelasungkawa atas meninggalnya istri anda”.

“Terima kasih!”, tutur si Kakek.

Francisco dan Kakek terdiam.

Beberapa saat kemudian Francisco kembali bertanya kepada si Kakek, “Kenapa anda tidak mengajak kerabat yang lain untuk menonton pertandingan ini?”.

“Sekarang mereka semua sedang sibuk!”, jawab Kakek.

“Sibuk apa mereka Kek?”, Francisco bertanya lagi.

Dengan tenang si Kakek menjawab, “Mereka sedang menghadiri pemakaman istri saya”.

Francisco, “...!!!”, (dalam hati dia berkata, “Bener-bener Interisti Sejati”).




   Di kutip dari Source : http://fikrionline.blogspot.com